![]() |
| Kebun Teh (dok. pribadi) |
*
Pukul dua pagi. Hujan tak henti-henti menyirami setiap jengkal tanah sedari sore tadi. Langit seolah ingin menangis semalaman, sebab ada gemuruh yang lama ia pendam dan ingin ditumpahkan.
Baru saja aku berwudhu di pancuran. Hembusan angin sejuk mengalir dari ruang terbuka di tempat aku bersuci. Membelai kulitku dan seketika membangunkan memori setahun yang lalu.
Ah, larut malam agaknya memang waktu yang mencekam. Bukan tentang makhluk-makhluk astral. Malam terkadang membuat ingatan yang sudah susah payah dilupakan justru datang menyergap dalam sekejap.
Setahun yang lalu lebih dua minggu. Saat nafasku belum benar-benar lega, tiba-tiba dadaku seolah mendapat tekanan sebesar ribuan hektopascal hingga sesak sekali rasanya. Hanya karena sebuah notifikasi di layar orang lain yang sengaja ku curi lihat. Suasana hatiku berubah tidak karuan. Makan tak selera. Bicarapun ogah-ogahan. Padahal seharusnya saat itu adalah waktuku bersenang-senang. Udara yang sejuk, air dingin, pepohonan rindang, dan hamparan kebun teh hijau yang selalu jadi favoritku. Ah, manusia memang hobi menyayat lukanya sendiri.
Yah, biasalah anak muda. Tapi ku kira teman-temanku jarang ada yang semenye-menye ini, sih.
Ah sudahlah. Itu semua sudah berlalu. Meski masih ku ingat betul bagaimana sesaknya waktu itu, toh tak ada yang bisa aku lakukan saat melihat hal itu terjadi di depanku. Toh sekarang sudah tidak merasa seperti itu meskipun yang ku lihat sekarang jauh lebih menyakitkan jika aku memakai kacamataku yang dulu. Toh aku sekarang sudah memakai kacamata yang baru. Untuk memandang sesuatu dengan lebih baik, lebih hati-hati, dan lebih legowo.
Selamat datang 2020!
Semoga mulai hari ini, pemahamanku terhadap apapun yang terjadi lebih baik dan lebih bijak lagi. Tidak grasa-grusu. Tidak mudah menyakiti. Meski salah dan kurangku banyak sekali.
Semoga bisa bertumbuh menjadi pribadi yang kuat. Yang dapat menjaga komitmen diri. Tidak mudah patah dan menyerah seperti saat ini.
Semoga hati ini menjadi lebih ikhlas, lebih menerima, atas seluruh takdir yang Allah beri. Atas apa-apa yang tidak bisa dikendalikan. Tidak hanya di bibir saja, tapi benar-benar yakin di dalam hati.
Semoga Allah anugerahkan iman islam dan ihsan yang mengakar kuat kepada hambaNya ini, sebab itulah satu-satunya pegangan meskipun ku betul-betul sadari betapa hina diri ini.
Semoga Allah berikan banyak kabar baik di tahun ini, aamiin :)
Pd Betung, 1 Jan 2020
Btw. Ada ngga ya studi literatur yang menyatakan bahwa terdapat korelasi antara hujan dan memori yang tiba-tiba datang? Aku sungguh penasaran.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar