Rabu, 04 Agustus 2021

Pelajaran dari Seseorang

Pelajaran berharga yang ku dapat dari perkenalan dengan seseorang selama beberapa bulan :

1. Dunia ini tidak berputar untuk kita saja, lho. Ada orang lain yang juga butuh dihargai, didengarkan, dan tentu saja banyak sekali yg lebih baik dari kita.

Jadi sadar juga bahwa aku juga pernah jadi sangat menyebalkan di mata orang lain :)

Dan juga jadi diingatkan bahwa mau sebagaimana pun pencapaian yang telah dimiliki, tetap wajib untuk rendah hati.


2. Betapa penting namun sulitnya menjaga hubungan antar manusia agar nanti ketika sudah pergi, yang tersisa adalah kesan dan kenangan baik. Bukan sebaliknya.

Satu-dua orang pembenci itu wajar, tapi jika hampir seluruh orang tidak menyukai kita. Kita harusnya tahu letak kesalahan ada dimana.


3. Tapi di sisi lain, berhadapan dengan orang yg tidak kita sukai ternyata menguji bagaimana penguasaan kita terhadap diri sendiri. Sekuat apa untuk menahan emosi. Tidak menunjukkan apalagi membalasnya. Semampu apa untuk tidak membicarakan keburukannya. Dan apakah kita bisa memaafkan, atau paling tidak tetap bisa berbuat baik padanya meskipun sudah berkali-kali disakiti.

Dan ternyata di ujian ini masih remidi.


4. Kebencian ternyata hanya membuang-buang waktu dan menguras energi. Membutakan kita dari melihat kebaikan yang orang lain miliki. Tombol husnudzon auto OFF, jadilah yang terlihat hanya yang buruk-buruknya saja. Padahal ketika dilihat lagi dengan kacamata netral, kebaikannya akan nampak. Dan jika hal buruk masih terjadi, yang terasa sudah bukan naik pitam naik darah yang 'mbedhedheg' di dada. Jatohnya cuek aja saay~


Yah, gitu lah. Pada tiap-tiap pengalaman buruk, akhirnya pasti akan ada aja pelajarannya.

Allah pasti menakdirkan sesuatu untuk kita dengan maksud untuk memberi kita hikmah dan pembelajaran.

Tinggal kitanya bisa ngga mengambil pelajaran?

Aku ding, bukan kita..


Ditulis di Bandar Lampung, 23 Mei 2021. Sekarang pelajarannya sudah selesai wkwkwk. Ada tempat lain yg sedang mendapat pembelajaran dari Allah 😅

Sabtu, 29 Mei 2021

Menghindar

Jarak kini menjadi alibi yang memuluskan usahaku menjauhinya

Sejak pagi itu perasaanku berubah seketika

Sebisa mungkin aku menghindari berbagai jenis interaksi

Sepertinya dia tidak dengan sengaja melakukan itu

Bahkan sepertinya dia juga tidak tahu bahwa apa yang dilakukannya membuatku berubah menjadi sedingin ini

Mungkin salahku yang sulit menerima

Tapi perlakuannya sudah kelewat jauh melampaui batas sensitivitasku, sampai aku berhenti berpura-pura seperti biasanya. Entah dia merasa atau tidak

Entah sampai kapan aku bisa kembali biasa saja.. dan berpura-pura tersenyum -menyeringai- menghadapi mereka yang ia sodor-sodorkan padaku sementara aku sungguh tidak ingin terlibat lebih jauh dengan mereka

Kehadiran mereka membuat segalanya berbeda, dan aku tidak suka

Mungkin berpotensi dosa, tapi hingga saat ini aku -mungkin egoku- masih tidak terima


Jumat, 28 Mei 2021

Pilihan Hidup

Tiap-tiap dari kita memiliki pilihan hidupnya masing-masing. Pilihan hidup tersebut semestinya berasal dari keinginan sendiri dan tujuan hidup kita kedepannya. Tidak dipengaruhi oleh orang lain, lingkungan, atau kebiasaan sosial yang sedang marak terjadi di sekitar kita. Karenanya, beragam konsekuensi yang akan terjadi kedepannya harus disadari sejak awal keputusan tersebut dibuat.


Selain diri kita, orang lain pun juga begitu.

Maka pilihan hidup orang lain mestinya tidak membuat kita risau dan terganggu, karena mereka memiliki hidup dan pilihannya sendiri beserta rentetan konsekuensi yang mereka alami.

Hanya karena kita tidak memilih jalan yang sama dengan orang lain, bukan berarti dibenarkan untuk merasa bahwa pilihan kita-lah yang terbaik.

Mestinya pilihan yang kita buat adalah pilihan yang membuat kita cukup yakin pada diri kita sendiri sehingga tidak perlu lagi menganggap rendah/remeh pilihan orang lain.


Simpelnya..

Bekerja atau ibu rumah tangga

PNS, swasta atau wirausaha

Menikah atau lanjut kuliah

Hutang untuk beli rumah atau nabung tapi ngontrak

Dan beragam pilihan hidup lainnya

Asal menurut kita benar dan kita sanggup dengan konsekuensinya. Untuk apa memusingkan pilihan orang lain?


Bandar Lampung, 28 Mei 2021


Kamis, 04 Maret 2021

Tentang yang ditinggalkan

Kadang masih mikir kalo ibuk masih ada dan bisa ketemu lagi kalo lagi pulang ke rumah. Masih mikir kalo sekarang gak ketemu ini karena aku lagi jauh aja.

Tapi buru-buru menyadarkan diri kalo aku lagi berkhayal. Buru-buru mengalihkan pikiran biar gak sedih terus

Pas pulang ke rumah 3 bulan yang lalu, tiap lihat perabot-perabot dan sudut-sudut ruangan, kenangan-kenangan sama ibuk muncul terus. Apalagi aku sempet di rumah bertiga aja selama 4 bulan. Makin banyak kenangan bareng di saat-saat terakhir.

Then I was drown in sadness for some days. Gak kuat bangettt.

Lalu ngebayangin gimana ayah yang tinggal disana dan harus ngehadapin kondisi kayak gitu tiap hari :"

Gak tega banget

Jadi saat itu, hingga sekarang dan insyaaAllah nanti, aku berusaha banget mendukung apapun keputusan yang bikin ayah bahagia.

I know he still love her. I see that thru his eyes whenever he told me about her

Al Fatihah :')

Bandar Lampung, 4 Maret 2021

Sabtu, 28 Maret 2020

Bergejolak

(curhat)

Teringat dulu pernah ada yang memakai hangerku tanpa izin, aku kesal kali
Begitu juga sandalku
Atau helmku
Dan apapun milikku
Pokoknya ngga boleh ada yang pakai barangku sebelum izin dulu!1!1!1!1!1

Padahal cuma barang ngga yang berharga-berharga banget. Tapi rasa kesalku bisa sampai ubun-ubun rasanya.

Suatu ketika ada yang berusaha mengambil apa yang jadi milikku. Sesuatu yang sangat penting.
Woah gimana aku ngga bersungut-sungut
Kesaaaaaal kali.. Geraaaam.. Maraaaaaah..
Pengen rasanya memaki-maki, menghina-dina
Sampai kayaknya setan berhasil mengipasi amarahku agar semakin membesar
Hingga membakar segala macam udzur yang harusnya aku berikan

Ini namanya apa sih ya? Ego kah?
Harusnya kan aku percaya kalo "Apa yang ditakdirkan untukku tidak akan melewatkanku. Dan apa yang melewatkanku tidak akan ditakdirkan untukku."

Ahh..
"Aku berlindung kepada Allah dari kejahatan diriku."

Salah satu kelemahan terbesarku adalah emosional.
Mudah sekali marah. Mudah sekali senang. Mudah sedih. Mudah tertawa. Mudah tersinggung. Mudah terbawa perasaan. Mudah empatik. Pokoknya apa-apa serba perasaan. Bahkan persentase penggunaan feelingku adalah sebesar 65% menurut 16personalities.com (35% thinking).

Jujur aku takut stroke kalo ngga berubah dan masih gini-gini aja. Wkwkwk, ketawa aja silakan

Tapi kayaknya ya ngga segitunya siiih.. Kemarin ngerasa marah banget kayaknya karena ada pengaruh hormon pms deh. Jadi tidak terkontrol. Di hari-hari biasa sih masih lebih bisa dikendalikan.

Tapi tetep jadi PR sih.. Gimana ya cara mengendalikan emosi?
Share dong please...

Bangil, 28 Maret 2020 / 01:12
Belum bisa tidur karena lapar dan kelamaan tidur siang

Selasa, 17 Maret 2020

Kutitipkan Rinduku Pada Laut Jawa

Kutitipkan rinduku pada Laut Jawa yang baru saja kulewati
Biar alun dan gelombang membawanya ke tempatmu yang bahari
Berharap matahari mengubahnya menjadi uap air dan berkondensasi

Kali ini.. aku memohon pada angin agar mengarak ia ke tempatmu berdiri
Agar rinduku sampai dan menghujanimu tanpa henti

KA Dharmawangsa, antara Semarang Tawang dan Ngrombo
17 Maret 2020

Sabtu, 08 Februari 2020

Hilang Akalku

Aku ingin menyelami hatimu
Menelusuri arah mana yang sedang kau tuju
Apakah itu aku, atau hanya ego dan angan-anganmu

Kesabaranku hanya sebatas enam jam
Pengertianku hanya sebatas ucapan
Oleh karenanya hampir pingsan aku penasaran
Maaf, mungkin aku yang keliru
Mungkin juga sedang hilang akalku

08022020 01:20