Pernah nggak sih kita
berpikir bahwa apa yang kita ucapkan pada lawan bicara kita itu bisa
berdampak besar bagi diri dan kehidupannya. Mungkin kebanyakan dari
kita nggak ada mikir sampai ke arah sana, termasuk aku sendiri sih
jarang banget mikir kayak gitu.
Waktu kelas X SMA dulu,
ada teori sosiologi yang diajarin sama Bu Fresty yang cantik banget
yang nempel banget di otakku sampai sekarang. Teori Labelling
namanya, dikemukaan oleh Edwin M. Lemert. Dari sepemahamanku sih,
menurut teori Labelling, ketika seseorang dicap oleh orang-orang
disekitarnya/masyarakat sebagai orang yang “begini” maka orang
tersebut akan beranggapan bahwa memang begitulah dia dan akan terus
berusaha menjadi seperti itu. Nah dari situlah terjadi penyimpangan
sosial. Teori labelling ini memang seperti dikhususkan untuk
label/cap yang buruk bagi seseorang misal pencuri, perampok, tukang
nyontek, tukang bohong, tukang makan dan sebagainya.
*abaikan yang terakhir karena itu aku banget heuheu.
Hm, bukan bermaksud
mendahului pendapat tokoh-tokoh penting ya, tapi kalau dipikir-pikir
sebenernya teori labelling ini juga bisa berlaku ke hal-hal positif
juga lho. Dalam hal ini aku berpikirnya image seseorang itu bisa
dibentuk dengan how people think who is he/she sehingga ngefek banget
ke kehidupannya dia. Contohnya nggak usah jauh-jauh deh ya dari aku
sendiri, bukan maksud gimana-gimana tapi ini emang kenyataan. Ini juga sebagai bentuk "protes" bagi orang-orang yang suka sekali memberikan label hehe.
Kebanyakan orang-orang di kampus dan di kantor yang belum kenal aku lebih dalam
gitu pasti nilai aku sebagai ukhti yang “Subhanallah” gitu
*halah. Jadi mereka berpikir aku itu orang yang pendiam, alim,
pemalu, feminin dan HAL-HAL YANG sebenernya BUKAN AKU BANGET lainnya. Nah dari
situ aku jadi seakan-akan mikir bahwa aku memang harusnya begitu dan
berusaha jaga biar aku bisa jadi kayak yang orang-orang kira. Bagus
sih sebenernya karena “image” itu menuntut aku untuk jadi
lebih baik karena jadi kayak ada kontrol gitu kalau aku berbuat yang
agak “menyimpang” dari image yang terbentuk tadi. Tapi
efek buruknya adalah aku jadi nggak bisa bebas sepenuhnya menjadi
diriku sendiri, jadi kayak terikat sama “image” tadi.
Berat weh! Akibatnya orang-orang jadi mandang aku aneh gitu kalau aku coba jadi diriku sendiri dengan cara bergaul/bercanda yang ala-ala aku gitu. Ya walaupun emang aslinya aku orang yang mungkin agak berbeda bagi sebagian orang *ini serius.
Makanya sebenernya
sekarang aku kurang setuju sama pemberian label pada seseorang baik
itu label yang baik atau buruk. Dilema sih sebenernya karena harusnya
pemberian label baik itu mungkin bentuk kasih sayang Allah karena
menutupi aib-aib yang ada di kita. Tapi ya gitu, aku jadi merasa
dianggap aneh ketika aku menunjukkan jati diriku sesungguhnya,
muehehe. Mungkin ini karena aku introvert aja sih, jadi nggak semua
orang tau aku yang asli itu gimana ditambah karena label itu tadi.
Nah pas aku mulai bisa jadi diriku sendiri orang jadi mikir “oh
ternyata Sari itu gini aslinya.” Kan pedih ya, padahal kata
quotes-quotes itu “You don't have to be sorry for being
yourself” tapi ketika jadi diri sendiri orang-orang jadi
berpikir cukup negatif tentang kita. Ah, tapi suatu saat insyaaAllah aku
bakal bener-bener bisa accept me with all my flaws without affraid of
what people think about me. Daaan semoga suatu saat akan ada juga
seseorang yang dapat menerimaku seperti halnya penerimaanku pada
diriku sendiri, uhuk. Oke abaikan. Dan satu lagi, semoga suatu
saat aku bisa lebih bersyukur dan bisa jadi lebih baik lagi. Aamiin. Bantuin doa
ya!
Setelah ngobrolin teori
berujung curhat colongan diatas, semoga kita dapat memetik hikmah
dari apa yang udah aku tulis dan kalian baca ya, hehe. Kalau nggak
bisa yaudah metik apel aja lumayan bisa dimakan siapa tahu pingsan
kayak putri salju terus ketemu pangeran deh!
Wassalam ;)
-Andika Fauziah Hapsari
Bandar Lampung, 21 November 2016
-Andika Fauziah Hapsari
Bandar Lampung, 21 November 2016

Tidak ada komentar:
Posting Komentar