Selasa, 22 November 2016

Labelling, dari Teori hingga Kenyataan

Teori labelling ala-ala Sari
Pernah nggak sih kita berpikir bahwa apa yang kita ucapkan pada lawan bicara kita itu bisa berdampak besar bagi diri dan kehidupannya. Mungkin kebanyakan dari kita nggak ada mikir sampai ke arah sana, termasuk aku sendiri sih jarang banget mikir kayak gitu.
Waktu kelas X SMA dulu, ada teori sosiologi yang diajarin sama Bu Fresty yang cantik banget yang nempel banget di otakku sampai sekarang. Teori Labelling namanya, dikemukaan oleh Edwin M. Lemert. Dari sepemahamanku sih, menurut teori Labelling, ketika seseorang dicap oleh orang-orang disekitarnya/masyarakat sebagai orang yang “begini” maka orang tersebut akan beranggapan bahwa memang begitulah dia dan akan terus berusaha menjadi seperti itu. Nah dari situlah terjadi penyimpangan sosial. Teori labelling ini memang seperti dikhususkan untuk label/cap yang buruk bagi seseorang misal pencuri, perampok, tukang nyontek, tukang bohong, tukang makan dan sebagainya. *abaikan yang terakhir karena itu aku banget heuheu.
Hm, bukan bermaksud mendahului pendapat tokoh-tokoh penting ya, tapi kalau dipikir-pikir sebenernya teori labelling ini juga bisa berlaku ke hal-hal positif juga lho. Dalam hal ini aku berpikirnya image seseorang itu bisa dibentuk dengan how people think who is he/she sehingga ngefek banget ke kehidupannya dia. Contohnya nggak usah jauh-jauh deh ya dari aku sendiri, bukan maksud gimana-gimana tapi ini emang kenyataan. Ini juga sebagai bentuk "protes" bagi orang-orang yang suka sekali memberikan label hehe. Kebanyakan orang-orang di kampus dan di kantor yang belum kenal aku lebih dalam gitu pasti nilai aku sebagai ukhti yang “Subhanallah” gitu *halah. Jadi mereka berpikir aku itu orang yang pendiam, alim, pemalu, feminin dan HAL-HAL YANG sebenernya BUKAN AKU BANGET lainnya. Nah dari situ aku jadi seakan-akan mikir bahwa aku memang harusnya begitu dan berusaha jaga biar aku bisa jadi kayak yang orang-orang kira. Bagus sih sebenernya karena “image” itu menuntut aku untuk jadi lebih baik karena jadi kayak ada kontrol gitu kalau aku berbuat yang agak “menyimpang” dari image yang terbentuk tadi. Tapi efek buruknya adalah aku jadi nggak bisa bebas sepenuhnya menjadi diriku sendiri, jadi kayak terikat sama “image” tadi. Berat weh! Akibatnya orang-orang jadi mandang aku aneh gitu kalau aku coba jadi diriku sendiri dengan cara bergaul/bercanda yang ala-ala aku gitu. Ya walaupun emang aslinya aku orang yang mungkin agak berbeda bagi sebagian orang *ini serius.
Makanya sebenernya sekarang aku kurang setuju sama pemberian label pada seseorang baik itu label yang baik atau buruk. Dilema sih sebenernya karena harusnya pemberian label baik itu mungkin bentuk kasih sayang Allah karena menutupi aib-aib yang ada di kita. Tapi ya gitu, aku jadi merasa dianggap aneh ketika aku menunjukkan jati diriku sesungguhnya, muehehe. Mungkin ini karena aku introvert aja sih, jadi nggak semua orang tau aku yang asli itu gimana ditambah karena label itu tadi. Nah pas aku mulai bisa jadi diriku sendiri orang jadi mikir “oh ternyata Sari itu gini aslinya.” Kan pedih ya, padahal kata quotes-quotes itu “You don't have to be sorry for being yourself” tapi ketika jadi diri sendiri orang-orang jadi berpikir cukup negatif tentang kita. Ah, tapi suatu saat insyaaAllah aku bakal bener-bener bisa accept me with all my flaws without affraid of what people think about me. Daaan semoga suatu saat akan ada juga seseorang yang dapat menerimaku seperti halnya penerimaanku pada diriku sendiri, uhuk. Oke abaikan. Dan satu lagi, semoga suatu saat aku bisa lebih bersyukur dan bisa jadi lebih baik lagi. Aamiin. Bantuin doa ya!
Setelah ngobrolin teori berujung curhat colongan diatas, semoga kita dapat memetik hikmah dari apa yang udah aku tulis dan kalian baca ya, hehe. Kalau nggak bisa yaudah metik apel aja lumayan bisa dimakan siapa tahu pingsan kayak putri salju terus ketemu pangeran deh!

Wassalam ;)

-Andika Fauziah Hapsari
Bandar Lampung, 21 November 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar