Sabtu, 14 Januari 2017

Skeptisme Perempuan

"Semua laki-laki itu sama saja," ucap perempuan di depanku membuka percakapan. Raut mukanya datar, sulit aku menebak apa yang akan dibicarakannya selanjutnya. Akupun memperhatikannya dengan seksama.
"Belum pernah kutemui laki-laki yang hanya berjuang untuk satu perempuan saja, untuk benar-benar serius dalam mengupayakan sesuatu," perempuan itu melanjutkan.
"Bahkan ayahmu?" tanyaku.
"Entah, aku tidak hidup pada zaman ayahku berjuang."
"Laki-laki itu seperti nelayan yang menebar jala. Menebar sekenanya, dapat satu syukur, dapat banyak lumayan buat cadangan. Selalu seperti itu. Makanya aku tidak mau jadi ikan yang dengan polosnya masuk ke dalam jala nelayan-nelayan sok tampan itu," ia melanjutkan. Dia kini menatapku, aku tersenyum kecut.
"Kau tahu, perempuan itu merasa berharga ketika diperjuangkan. Tapi nyatanya tidak ada satupun laki-laki yang dengan tulus memperjuangkan dirinya seorang saja. Tidak ada. Pasti sebelumnya laki-laki itu pernah menawarkan perjuangannya untuk perempuan lain. Ya, selalu seperti itu. Aku tidak mengerti mengapa manusia dengan jenis laki-laki ini tidak pernah tahan untuk diam saja mempertahankan apa yang dia miliki untuk satu orang perempuan saja. Mereka seperti tidak punya pegangan. Aku benar-benar tidak mengerti," nada bicaranya mulai terdengar kesal.
"Itulah mengapa aku benar-benar tidak percaya ketika laki-laki mengatakan omong kosongnya kepadaku. Itu hanya ceracauan mereka saja. Mereka hanya sekedar melempar umpan tanpa bermaksud menarik pancingnya. Mereka tidak benar-benar serius mengatakannya. Mereka akan serius jika umpannya termakan. Mereka baru akan serius jika mendapat respon. Mereka tidak bermaksud serius dari awal. Haha, itulah sebabnya aku tidak pernah mendengarkan ocehan mereka."
Hening.
Aku tidak menanggapi ucapannya. Aku tahu dia adalah pesakitan perihal perasaan. Dan aku yang didepannya kini adalah nelayan pecundang yang bahkan tak berani menebar jala. Sedari pertama bertemu dengannya, aku masih menunggu sakitnya reda.
"Bagaimana?" tanyanya tiba-tiba. Lamunanku buyar seketika.
"Apanya yang bagaimana?" tanyaku.
"Bukankah benar apa yang tadi aku katakan?" lagi-lagi aku tersenyum kecut. Dia bertanya pada orang yang salah.
"Jangan mudah menggeneralisir sesuatu," ungkapku singkat.
"Maksudmu?"
"Kau boleh membenci laki-laki sampai habis kebencianmu. Tapi satu hal yang harus kau ingat, jangan mudah menggeneralisir sesuatu. Apapun itu."
Dia terdiam lalu menyeruput cokelat panas favoritnya.


-Andika Fauziah Hapsari
Bandar Lampung, 13 Januari 2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar