Kubah langit menyimpan memori diantara bintang gemintang dan perawanannya. Tentang apa yang terjadi dibawah kemegahannya.
Jumat, 20 Oktober 2017
Skeptisisme Perempuan (bagian 2)
Setelah percakapanku dengannya waktu itu, aku semakin mantap dan tetap menahan diri untuk tidak menunjukkan apapun padanya. Karena jika ia tahu, tidak akan ada ruang bagiku untuk meredam rasa skeptisnya terhadap laki-laki. Utamanya aku.
Sore itu kami kembali bertemu. Di dalam sebuah kafe berpendingin udara, aku melihat tatapannya begitu dingin, sedingin ruangan yang kami tempati. Setelah diam beberapa saat, dia pun angkat bicara.
"Coba tunjukkan padaku laki-laki yang bersedia menjaga hatinya untuk tidak mengumbar perhatian pada satu, dua atau lebih perempuan. Laki-laki yang bersedia mengendalikan egonya untuk tidak melibatkan perempuan hadir di sela aktifitasnya padahal sebenarnya dia mampu untuk melakukannya." Dia memulai pembicaraan tentang ini lagi.
"Coba tunjukkan padaku laki-laki yang bersabar untuk tidak menunjukkan perasaan pada perempuan yang disukainya. Laki-laki yang bersabar dan menahan diri sebelum segalanya menjadi boleh untuknya. Juga, coba tunjukkan padaku laki-laki yang bisa menghargai perempuan sebagaimana perempuan harusnya dihormati. Laki-laki yang tidak pernah menjadikan perempuan hanya sebagai bahan candaan, selingan, pelarian dan segala macam," ungkapnya panjang lebar. Setelah sekian lama ternyata sakitnya tak kunjung reda. Aku pun berpikir apa yang harus aku katakan padanya agar dia paham.
"Bagaimana seorang tamu bisa masuk kalau tuan rumah tidak membukakan pintu? Bagaimana kita bisa mengerti apa maksud dan tujuan tamu itu datang, kalau kita tidak membiarkannya masuk ke dalam?" akhirnya aku bisa membuat perumpaan yang tepat.
"Maksudnya?" Dia tidak mengerti.
"Ibarat kamu seorang tuan rumah dan laki-laki adalah tamu, bukalah pintu rumahmu, pintu hatimu, terlebih dulu sebelum kamu tahu apa yang ia maksud, apa yang ada dalam hatinya. Kamu tidak bisa terus menerus menutup diri, karena kamu tidak tahu bagaimana sebenarnya seorang laki-laki kalau kamu tidak menyediakan ruang untuk mengenalnya."
Ia terdiam dan terlihat sedang mencerna perkataanku.
"Tapi, bukan sekarang saat yang tepat menurutku. Memang sengaja aku tidak membiarkan siapapun masuk. Aku ingin menjaga, sebab itu aku mengharapkan seseorang yang juga menjaga dirinya."
Tatapannya sendu ke arah cangkir putih yang sedang ia genggam. Terlihat sedang ada konflik batin dalam hatinya. Dan sekarang giliran aku yang terdiam. Sepertinya aku memang harus menunggu dengan kesabaran yang lebih dalam.
-AFH
20 Oktober 2017
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar