Kamis, 28 Juni 2018

Kita dan Awan Abu-abu


Pagi itu terasa dingin. Sebab awan abu-abu yang tebal sedang berada pada puncak eksistensinya. Memamerkan petir dan guruh, serta menghujani kita tanpa ampun. Sedang kita sengaja berdiam di tanah yang lapang, sebab ada sesuatu yang menahan kita untuk tetap berdiri disana.
Badanku terasa dingin. Tapi nyatanya debar di dadaku membuat semuanya terasa hangat. Tak dapat dielak, sebab sumbernya berada satu langkah di depanku. Aku tak berani menatapmu. Sungguh. Sebab selain berdosa, akupun tidak bisa pun biasa.

==

Hujan di bulan Juni membuat pagi ini terasa dingin dan mencekam. Diwarnai dengan kesalahpahaman, hari kita justru terasa semakin runyam. Gemuruh yang kudengar mungkin bukan dari awan abu-abu itu. Gemuruh itu mungkin kudengar dari amarahmu yang belum padam. Bagaimana bisa mereda, jika kita memang tidak pernah saling bicara.



Pondok Betung, 28 Juni 2018

Tidak ada komentar:

Posting Komentar