Pagi itu terasa
dingin. Sebab awan abu-abu yang tebal sedang berada pada puncak eksistensinya.
Memamerkan petir dan guruh, serta menghujani kita tanpa ampun. Sedang kita
sengaja berdiam di tanah yang lapang, sebab ada sesuatu yang menahan kita untuk
tetap berdiri disana.
Badanku terasa
dingin. Tapi nyatanya debar di dadaku membuat semuanya terasa hangat. Tak dapat
dielak, sebab sumbernya berada satu langkah di depanku. Aku tak berani
menatapmu. Sungguh. Sebab selain berdosa, akupun tidak bisa pun biasa.
==
Hujan di bulan
Juni membuat pagi ini terasa dingin dan mencekam. Diwarnai dengan
kesalahpahaman, hari kita justru terasa semakin runyam. Gemuruh yang kudengar
mungkin bukan dari awan abu-abu itu. Gemuruh itu mungkin kudengar dari amarahmu
yang belum padam. Bagaimana bisa mereda, jika kita memang tidak pernah saling
bicara.
Pondok Betung, 28
Juni 2018
Tidak ada komentar:
Posting Komentar